Viaduk, Jejak Jalur Kereta Kolonial dan Lanskap Karang Unik di Karduluk Menunggu Sentuhan Konservasi
- Mohammad -
- 03 Aug, 2026
SUMENEP I MaduraNetwork.id - Di ujung pesisir selatan Madura Timur, sebuah bangunan tua berdiri sunyi di tengah semak dan hamparan batu karang. Lengkungan-lengkungan penyangganya masih kokoh meski usia telah melampaui satu abad. Warga Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, mengenalnya sebagai viaduk—peninggalan masa kolonial yang kini nyaris luput dari perhatian.
Bangunan itu berada di Dusun Blajud, hanya beberapa
ratus meter dari bibir pantai. Tidak ada prasasti, papan informasi, ataupun
penanda sejarah yang menjelaskan kapan viaduk tersebut dibangun. Namun, dari
karakter arsitekturnya, warga dan pemerhati sejarah memperkirakan bangunan itu
berasal dari awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial Belanda membangun
berbagai infrastruktur transportasi di sejumlah wilayah Nusantara.
Berbeda dengan jembatan layang modern, viaduk
dirancang untuk membawa jalur kereta api melintasi bentang alam yang sulit,
seperti lembah, sungai, atau cekungan. Struktur bangunannya ditandai deretan
lengkungan dengan pilar-pilar pendek yang tersusun rapat, menciptakan bentuk
khas yang hingga kini masih dapat dikenali di Karduluk.
Kini, kawasan tersebut tercatat sebagai aset PT
Kereta Api Indonesia (KAI). Meski demikian, jejak rel kereta yang dahulu
melintas sudah tidak lagi terlihat. Yang tersisa hanyalah bangunan
penyeberangan yang menjadi saksi bisu sejarah transportasi di Madura.
Keunikan kawasan ini tidak berhenti pada viaduk. Di
sekitarnya terdapat sebuah sumur tua yang telah lama tidak digunakan serta
bentang batu karang yang oleh warga disebut Tosolong atau Bato Solong.
"Bato Solong sudah dikenal masyarakat sejak
dulu," kata Kepala Dusun Blajud, Abdul Hadi, kepada Media Center.
Hamparan batu karang itu membentuk rongga-rongga
alami menyerupai terowongan. Permukaannya yang tajam dan licin membuat
pengunjung harus berhati-hati saat menjelajahinya. Dari puncak batu karang,
pandangan lepas mengarah ke Selat Madura. Ketika cuaca cerah, garis pegunungan
di bagian timur Pulau Jawa tampak jelas di kejauhan.
Di atas gugusan batu itu terdapat dua bangunan
menyerupai makam. Namun, menurut Abdul Hadi, keduanya bukan situs pemakaman
bersejarah.
"Itu makam buatan. Bukan makam
sungguhan," ujarnya.
Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menempuh
perjalanan sekitar dua kilometer dari Balai Desa Karduluk melalui jalan kampung
menuju pesisir. Akses yang masih sederhana membuat kawasan ini belum banyak
dikunjungi wisatawan.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap
pelestarian cagar budaya dan pengembangan wisata berbasis sejarah, keberadaan
viaduk Karduluk menghadirkan ironi. Bangunan yang merekam jejak infrastruktur
kolonial itu masih berdiri kokoh, tetapi minim dokumentasi dan belum tersentuh
pengelolaan yang memadai.
Padahal, jika dipadukan dengan lanskap pesisir,
gugusan batu karang Tosolong, serta narasi sejarah jalur transportasi kolonial
di Madura, kawasan ini berpotensi berkembang menjadi destinasi wisata edukasi
yang menawarkan lebih dari sekadar panorama alam. Ia menyimpan kisah tentang
perubahan zaman, tentang rel yang telah hilang, tetapi jejak sejarahnya masih
bertahan di antara lengkungan batu yang menua.
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *


